artikel
Penderita AIDS Jangan Dijauhi Keluarga
Menderita penyakit mematikan, ditambah tak diterima lingkungan menjadi beban tersendiri bagi penderita HIV/AIDS. Hal itulah yang kini dialami Ahmad, penderita HIV/AIDS sejak tiga tahun silam. Ia tertular HIV/AIDS akibat jarum suntik saat menjadi pencandu narkoba.
Kini, Ahmad aktif di Jaringan Orang Terinfeksi HIV (JOTHI). Sesekali juga bergabung sebagai relawan untuk menyosialisasikan tak menggunakan jarum suntik bergantian. Aktif di Jothi menjadi kekuatan sendiri bagi Ahmad. Dukungan dan diterima masyarakat menjadi semangat menjalani sisa hidup.
Berdasarkan Data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, hingga Maret 2008, tercatat lebih dari 11 ribu kasus AIDS terjadi di Indonesia. Mayoritas penyebarannya terjadi karena penggunaan narkotik dengan jarum suntik.
Dukungan keluarga maupun masyarakat menjadi penyemangat bagi penderita HIV/AIDS. Saat ini, para penderita berharap ketersediaan pasokan obat Anti Retroviral (ARV) sebagai penyambung hidup bisa berjalan lancar. Berhubungan seks dengan pasangan sendiri, menggunakan kondom, menghindari penggunaan jarum suntik bergantian serta melakukan transfusi darah dengan cara selektif dan ketat adalah berbagai cara efektif mencegah penularan HIV/AIDS.(UPI/Satya Pandya)
“Lastri” Bukan Film Komunis
Rencana pembuatan film Lastri ternyata cukup menyita perhatian. Ini terkait adanya tudingan film garapan sutradara Eros Djarot itu menyebarkan ajaran komunis. Ketegangan pun menyertai jalannya syuting di bekas pabrik gula Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, pekan lalu. Front Pembela Islam Surakarta dan sejumlah ormas Islam memprotesnya.
Beruntung, kericuhan bisa dihindari setelah Eros menemui warga serta sejumlah aktivis yang sejak awal bersiap membubarkan jalannya syuting. Dialog antara Eros Djarot dan warga diwarnai perdebatan panjang terkait persepsi yang disampaikan soal tudingan penyebaran ajaran komunisme.
Ketua Dewan Tanfidz FPI Surakarta, Choirul Rus Suparjo, mengatakan, mereka telah berupaya menulis surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono demi pelarangan film ini. “Kami juga sudah membaca sinopsisnya. Paham bagaimana perjalanan film itu,” kata Choirul.
Di sisi lain, dukungan terhadap film Lastri juga bermunculan. Para seniman se-Solo Raya yang tergabung dalam Aliansi Kebebasan Berekspresi Surakarta mendatangi Markas Kepolisian Wilayah Solo. Menurut mereka, langkah kepolisian melarang syuting film itu tak beralasan dan melanggar hak asasi manusia. Polwil Solo menyatakan masih berkoordinasi dengan Markas Besar Polri terkait kelanjutan syuting film Lastri.
Eros Djarot sang sutradara pun angkat bicara. Menurut Eros, film Lastri memang mengambil latar belakang 1965-an, namun sama sekali tak mengandung ajaran komunisme. “Saya orang yang berkewajiban menjaga Indonesia tidak lagi membuka peluang tumbuhnya partai terlarang. Tidak ada niatan membangkitkan komunisme,” kata Eros.
Dia menyayangkan tindakan FPI yang salah satunya didasari setelah membaca sinopsis film Lastri. “Kalau melalui sinopsis yang saya buat dan orang bisa menyimpulkan seperti itu, alangkah naifnya,” ucap Eros. “Berilah kami kepercayaan apa yang akan saya lakukan jelas sebagai warga negara yang memikirkan bangsa. Bangsa ini tidak cocok dengan paham marxisisme dan leninisme.”
Kendati diprotes, Marcella Zalianty selaku produser mengaku akan melanjutkan film ini. “Insya Allah kami bisa menunjukkan yang ditakutkan selama ini tak terjadi,” kata Marcella. “Tidak perlu direspon berlebihan karena ini roman percintaan yang berlatar belakang pada masa lampau. Bukan based on true story tapi inspired by.”(YNI)
Pemindahan Lokomotif Kuno Menuai Kontroversi
Jakarta – Pemindahan lokomotif uap kuno tipe E 1060 tahun 1965 ternyata diwarnai kontroversi. Sejumlah masyarakat peduli kereta di Jawa tidak mengizinkan lokomotif pengangkut gerbong batubara itu dibawa kembali ke Sumatera Barat.
“Wah kenapa dipindahin. Kan sudah 10 tahun berada di sana (Jawa). Itu kata pecinta kereta di Jawa. Wajarlah, namanya juga peduli sama kereta api. Mereka memberikan perhatian,” ujar salah satu anggota Masyarakat Peduli Kareta Api Sumatera Barat (MPKS) Nofrins Napilus kepada detikcom, Sabtu (6/12/2008).
Leave a Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a Reply
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.